Photobucket"alt="gambar"title="klik here to get more"/>

Mengenai Saya

Foto Saya
kecil tapi berkeinginan besar

Senin, 30 Mei 2011

PEMUDA MUHAMMADIYAH SURUH KALANG


PEMUDA MUHAMMADIYA SURUH KALANG ORTOM DARI MUHAMMADIYAH RANTING SURUHKALANG, JATEN, KARNGANYAR





FASTABIQUL KHOIROT

Rabu, 25 Mei 2011

makalah i'jaz al quran



A. PENDAHULUAN
I’jaz/Mukjizat
Salah satu objek penting dalam kajian ulumul qur’an adalah mengenai mukjizat. Terutama mukjizat Al-Quran , sempat menyeret para teolog klasik dalam perdebatan yang berkepanjangan, terutama para teolog dari mu’tazilah dengan teolog dari ahlisunnah. Dengan perantara mukjizat Allah mengingatkan manusia bahwa para rosul adalah utusannya yang mendapat dukungan dan bantuan dari langit. Mukjizat yang telah diberikan kepada nabi mempunyai fungsi yang sama, yaitu untuk memainkan peranannya dalam mengatasi kepandaian kaumnya, di samping membuktikan bahwa kekuasaan Allah itu diatas segala-galanya.
Setiap nabi di utus Allah selalu di bekali mukjizat. Diantara fungsi mukjizat adalah meyakinkan manusia yang ragu dan tidak percaya terhadap apa yang di bawa oleh nabi tersebut. Mukjizat ini selalu di kaitkan dengan perkembangan dan keahlian masyarakat yang dihadapi tiap-tiap nabi.
Pada hakikatnya, setiap mukjizat bersifat menantang, baik secara tegas atau tidak. Oleh karena itu, tantangan tersebut harus dipahami dan dimengerti orang-orang yang di tantangnya. Oleh karena itu juga, jenis mukjizat yang di berikan pada rosul selalu disesuaikan dengan keahlian masyarakat yang dihadapi dengan tujuan sebagai pukulan yang mematikan bagi masyarakat yang ditantang tersebut.

















B. PEMBAHASAN
1. Pengertian Mukjizat
Kata mukjizat dari kata kerja “a’jaza-I ‘jaz” yang berarti “melemahkan atau menjadikan tidak mampu”. Ini sejalan firman Allah : (Q.S al-maidah : 31)
Pelaku yang melemahkan dinamai mukjiz dan bila kemampuannya melemahkan pihak umat yang menonjol sehingga mampu membungkam lawan, ia dinamai MUKJIZAT.
Mukjizat di definisikan oleh pakar agama islam, antara lain sebagai “ suatu hal yang luar biasa yang terjadi melalui seorang yang mengaku nabi sebagai bukti kenabiannya yang ditantangkan kepada yang ragu, untuk melakukan atau mendatangkan hal serupa, tetapi mereka tidak mampu melayani tantangan itu. Dengan redaksi yang berbeda, mukjizat di definisikan pula sebagai sesuatu yang luar biasa yang diperlihatkan Allah melalui para nabi dan rosulNya, sebagai bukti atas kebenaran pengakuan kenabian dan kerosulannya1.
Al-Jahidz merupakan orang pertama yang membahas masalah yang berkaitan tentang I’jaz dalam kitabnya yang berjudul Nazmul-Qur’an. Dalam kitabnya yang lain yang berjudul al-Hayawan, al-Jahidz menunjuk kitabnya yang berjudul Nadzmul-Qur’an ia mengatakan: “Saya telah menulis sebuah kitab yang didalamnya terhimpun beberapa bagian dari al-Qur’an, agar anda dapat mengetahui perbedaan antara iijas (majas) dan hadzf (penghapusan kata demi keidahan kalimat); antara waza’id (tambahan kata untuk menekankan makna), fudhul (kata tambahan untuk memperindah irama) dan isti’arah (kata pinjaman atau metafora). Jika anda membaca kitab tersebut tentu anda akan mengetahui keutamaanya dalam hal iijaz, dan andapun akan melihat kumpulan kalimat yang memuat sedikit kata tapi bermakna banyak.
Ringkasnya orang-orang zaman dahulu yang giat melakukan penelitian tentang balaghah Qur’an terlampau sibuk dengan berbagai masalah yang jauh kaitannya dengan sastra itu sendiri. Karena terlalu gemar merinci masalah menjadi bab-bab dan fasal-fasal, sehingga mereka lalai mengenal kesamaan cirri umum gaya bahasa alQur’an dalam mengunkap sesuatu yang justru dapat menggetarkan jiwa,menggerakan perasaan dan mengucurkan air mata2.
Unsur-unsur yang terdapat pada mukjizat, sebagai mana di jelaskan oleh Quraish shihab :
• Hal atau peristiwa yang luar biasa
• Terjadi atau dipaparkan oleh seorang yang mengaku nabi
• Mengandung tantangan tehadap yang meragukan nabi
• Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani1
Al-Quran digunakan oleh nabi Muhammad Saw untuk menantang orang-rang pada masanya dan generasi sesudahnya yang tidak percaya terhadap kebenaran Al-Quran sebagai firman Allah (bukan ciptaan Muhammad) dan risalah serta ajaran yang di bawanya. Terhadap mereka, sungguh pun memiliki tingkat falsafah dan balaghoh sedemikian tinggi di bidang bahasa arab, Nabi memintanya untuk menandingi Al-Quran dalam tiga tahapan :
• Mendatangkan semisal Al-Quran secara keseluruhan (Q.S Al-Isra’ : 88)
• Mendatangkan sepuluh surat yang menyamai surat-surat yang ada dalam Al-Quran, (Q.S Hud : 13)
• Mendatangkan satu surat saja yang menyamai Al-Quran (Q.S Al-baqoroh : 23)3.

Sejarah membuktikan bahwa alquran ternyata gagal ditandingi. Beberapa cacatan sejarah :
• Pemimpin quraisy pernah mengutus abu al walid sebagai sastrawan ulung yang jarang bandingannya, untuk membuat sesuatu yang mirip dengan Alquran. Setelah bertemu Rosul dan membacakan surat Fushilat ia tercengang mendengar kehalusan dan keindahan gaya bahasa Alquran dan kembali dengan tangan kosong.
• Musailamah al kadzab yang mengaku nabi berusaha menggubah sesuatu yang mirip dengan ayat-ayat Al-Quran . Dan mengaku mendapat wahyu dari malaikat rahman. Salah satu gubahannya. ”hai katak, anak dari dua katak. Bersihkan apa saja yg engkau bersihkan, bagian atas engkau dan bagian bawah engkau di tanah”. Imam Rafi’i mengatakan bahwa musailamah tidak bermaksud menandingi Al-Quran dari segi bentuknya. Ia hanya mengambil cara Al-Quran untuk menundukkan hati kaum. Tapi diperangi oleh umat islam yang dipimpin Kholifah Abu Bakar. Dan lainnya.
Untuk meyaini akan kebenaran Alquran sebagai wahyu Allah, dapat diketahui pula dari keadaan nabi yang tidak pandai membaca dan menulis. Dan Beliau juga tidak bermukim di daerah yang mempunyai peradaban seperti mesir, romawi dll. AlQuran sendiri juga menyatan bila Rosul bisa membaca dan menulis, pastilah ada yang meragukan Al-Quran (Q.S Al-Ankabut : 48).

2. Macam-macam mukjizat
Secara garis besar, mukjizat dapat dibagi dalam 2 macam :
• Mukjizat yang bersifat material indrawi yang tidak kekal. Maksudnya keluarbiasaan tersebut dapat disaksikan atau dijangkau langsung melalui indra oleh masyarakat tempat nabi tersebut menyampaikan risalahnya. Seperti mukjizat nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad.
• Mukjizat yang tidak bersifat material indrawi, tetapi dapat dipahami dengan akal. Karena sifatnya tersebut tidak dibatasi oleh suatu tempat atau masa tertentu.
Perbedaan ini disebabkan oleh 2 hal pokok
a. Para rosul sebelum nabi Muhammad di tugaskan untuk masa dan tempat tertentu, beda dengan Nabi Muhammad yang diutus untuk umat sampai akhir yaman.
b. Manusia mengalami perkembangan dalam pemikirannya, umat para nabi sebelum nabi Muhammad membutuhkan bukti kebenaran yang harus sesuai dengan tingkat pemikiran mereka. Bukti tersebut harus demikian jelas dan lansung terjangkau panca indra mereka. Akan tetapi selah manusia mulai menanjak ketahap kedewasaan berpikir, bukti yang bersifat indrawi tidak terlalu dibutuhkan lagi. (Q.S Al-Isra’ : 93).
3. Segi-segi kemukjizatan Al-Quran
a. Gaya bahasa
Gaya bahasa alquran banyak membuat orang arab saat itu kagum dan terpesona. Kehalusan ungkapan bahasanya membuat banyak manusia masuk islam. Susunan alquran tidak dapat disamai oleh karya sebaik apapun. Alquran mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan bahasanya sehingga membuat kagum bukan saja rang-orang mukmin tetapi juga orng-orang kafir. Kaum muslim selain mengagumi keindahan bahasa alquran, juga mengagumu isi kandungannya serta meyakini bahwa ayat alquran adalah petunjuk kebahagiaan dunia akhirat4.
Para ahli bahasa Arab telah menekuni ilmu bahasa ini dengan segala variasinya sejak bahasa itu tumbuh sampai remaja dan mekar dan menjadi raksasa perkasa yang tegar dalam masa kemudaannya. Mereka mengubah puisi dan prosa, kata-kata bijak dan masal yang tunduk pada aturan bayan dan diekspresikan dalam uslub-uslubnya yang memukau, dalam gaya hakiki dan majazi (metafora), itnab dan ijaz, serta tutur dan ucapnya. Meskipun bahasa itu telah meningkat dan tinggi tetapi di hadapan Qur’an, dengan kemukjizatan bahasanya, ia menjadi pecahan-pecahan kecil yang tunduk menghormat dan takut terhadap uslub Qur’an5.

b. Susunan kalimat
Kendatipun alquran hadits qudsi dan hadits nabawi sama-sama keluar dari mulut nabi. Uslub (style) atau susunan bahasanya sangat jauh berbeda. Uslub bahasa alquran jauh lebih tinggi kualitasnya dengan yang lainnya. Alquran muncul dengan uslub yang begitu indah. Di dalam uslub tersebut terkandung nilai-nilai istimewa dan tidak akan pernah ada pada ucapan manusia.
Dalam alquran misalnya banyak ayat yang mengandung tasybih (penyerupaan) yang disusun dalam bentuk yang sangat indah lagi mempesona. Seperti dalam Al-Qori’ah : 5
Alquran selain menggunakan tasybih juga menggunakan majaz(metafora) dan matsal(perumpamaan).

c. Hukum ilahi yang sempurna
Al-Quran menjelaskan pokok-pokok aqidah, norma-norma keutamaan, sopan santun, undang-undang ekonomi politik, sosial dan kemasyarakatan, serta hukum-hukum ibadah.
Tentang aqidah Al-Quran mengajak umat manusia pada aqidah yang suci dan tinggi, yakin beriman kepada rukun iman yang 6. Al-Quran menggunakan tiga cara dalam menetpkan sebuah hukum :
1. Secara global. Persoalan ibadah umumnya diterangkan secara global, sedangkan perinciannya melalui hadits dan ijtihad.
2. Secara terperinci. Hukum yang dijelaskan secara terperinci adalah berkaitan dengan utang piutan, makanan yang halal dan haram dll.
d. Ketelitian redaksinya
1. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan antonimnya. Contoh :
 ”Al hayah” (hidup) dan ”Al maut” (mati) masing-masing 145 kali
 ”An naf” (manfaat) dan ”Al madharah” (mudarat) masing-masing 50 kali
 ”Al har” (panas) dan ”Al bard” (dingin) masing-masing 4 kali. Dll
2. Keseimbangan jumlah bilangan kata dengan sinonimnya/makna yang dikandungnya. Contoh :
 ”Al Harts” dan ”Az ZIra’ah” (bertani) masing-masing 14 kali
 ”Al Ushb” dan ”Adh Dhurur” (membanggakan diri) masing-masing 27 kali
 ”Adh Dhalum” dan ”Al Mawta” (orang sesat) masing-masing 17 kali. Dll
3. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan jumlah kata yang menunjukkan kepada akibatnya. Contoh :
 ”Al Infaq” (infaq) dengan ”Ar Ridho” (kerelaan), masing-masing 73 kali
 ”Al bukhl” (kekikiran) dengan ”al hasarah” (penyesalan) masing-masing 12 kali
 ”Al Kafirun” (orang-orang kafir) dengan ”An Nar” (neraka) masing-masing 154 kali. Dll
4. Keseimbangan antara jumlah bilangan kata dengan kata penyebabnya. Contoh :
 ”Al Isrof” (pemborosan) dengan ”As Surfah” (ketergesaan) masing-masing 23 kali
 ”Al Maq’izhah” (nasihat) dengan ”Al ihsan” (lidah) masing-masing 25 kali
 ”Al Asra” (tawanan) dengan ”Al Harb” (perang) masing-masing 6 kali. Dll
5. Disamping keseimbangan- keseimbangan tersebut juga ada keseimbangan khusus. Contoh :
 Kata ”Yawm” (hari) dalam bentuk tunggal sejumlah 365 kali, sebanyak hari-hari dalam setahun, sedangkan kata hari dalam bentuk prulal (ayyam) atau dua (yawmayn) jumlah keseluruhan ada 30 sama dengan hari dalam sebulan. Disisi lain kata syahr (bulan) hanya 12 kali ini sama jumlah bulan dalam setahun.
 Al-Quran menjelaskan bahwa langit ada tuju. Penjelasan ini diulangi sebanyak 7 kali.
 Kata-kata yang menunjuk kepada utusan tuhan, baik rosul atau nabi atau basyir (pembawa berita gembira) atau nadhir (pemberi peringatan) berjumlah 518 kali ini sama dengan penyebutan nama-nama rosul dan nabi yaitu 518.6.
e. Berita tentang hal-hal yang ghoib
Sebagian ulama mengatakan bahwa sebagian mukjizat Al-Quran itu adalah berita-berita ghoib. Salah satunya berita firaun yang mengejar-ngejar Nabi Musa diceritakan dalam surat Yunus : 92.
Pada ayat itu dijelaskan bahwa badan firaun diselamatkan Allah untuk pelajaran bagi generasi berikutnya. Tidak ada yang mengetahui hal tersebut karena telah terjadi 12 tahun SM. Pada tahun 1898, ahli purbakala Loret menemukan mumi yang dari data-data sejarah terbukti bahwa ia firaun yang bernama muniftah dan yang pernah mengejar nabi Musa a.s.
Berita-berita ghoib yang terdapat pada wahyu Allah yakni taurat, injil, dan Al-Quran merupakan mukjizat. Berita ghoib tersebut membuat takjub karena akal manusia tak sampai kepada hal-hal tersebut. Salah satu mukjizat Al-Quran adalah bahwa didalamnya banyak sekali terdapat ungkapan dan keterangan yang rahasianya baru terungkap oleh ilmu pengetahuan baru-baru ini.
Selain cerita firaun juga ada cerita peperangan romawidengan persia (QS. Ar Rum : 1-5) ternyata pemberitaan itu benar dan masih banyak lagi.
f. Isyarat-isyarat ilmiyah
Orang menafsirkan Qur’an dengan hal-hal yang sesuai dengan masalah ilmu pengetahuan dan berusaha keras menyimpulkan dari padanya segala persoalan yang muncul dalam ufuk kehidupan ilmiah, sebenarnya telah berbuat jahat terhadap Qur’an meskipun mereka sendiri mengiranya sebagai telah berbuat kebaikan. Sebab, masalah ilmu pengetehuan itu tunduk pada hukum kemajuan yang senantiasa berubah. Bahkan terkadang runtuh dari asas-asasnya. Jika kita menafsirkan Qur’an dengan ilmu pengetahuan maka kita menghadapkan penafsirannya kepada kebatilan jika kaidah-kaidah ilmiah itu berubah dan penemuan-penemuan baru membatalkan hasil penemuan lama atau jika suatu keyakinan membatalkan hipotesa.
Qur’an adalah kitab aqidah dan hidayah. Ia menyeru hati nurani untuk menghidupkan di dalamnya faktor-faktor perkembangan dan kemajuan serta dorongan kebaikan dan keutamaan.
Kemukjizatan ilmiah Qur’an bukanlah terletak pada pencakupannya akan teori-teori ilmiah yang selalu baru dan berubah serta merupakan hasil usaha manusia dalam penelitian dan pengamatan. Tetapi ia terletak pada dorongannya untuk berfikir dan menggunnakan akal. Qur’an mendorong manusia agar memperhatikan dan memikirkan alam. Ia tidak mengebiri aktifitas dan kreatifitas akal dalam memikirkan alam semesta, atau menghalangi dari penambahan ilmu pengetahuan yang dapat dicapainya. Dan tidak ada sebuah pun dari kitab-kitab agama terdahulu memberikan jaminan demikian seperti yang diberikan oleh Qur’an.
Ia mendorong kaum Muslimin agar memikirkan makhluk-makhluk Allah yang ada di langit dan di bumi:
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) mereka yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ya Tuhan kami, tiadalah Engkau rneraka.”(Ali Imran [3]:190-191).
Qur’an mendorong umat Islam agar memikirkan dirinya sendiri, bumi yang ditempatinya dan alam yang mengitarinya:
“Dan mengapakah mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan.” (ar-Rum [3]:8),
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (az-Zariyat [51]:20-21)
Qur’an membangkitkan pada diri setiap Muslim kesadaran lmiah untuk memikirkan, memahami dan menggunakan akal:
“Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir.” (al-Baqarah [2]:219)
Demikianlah. Kemukjizatan Qur’an secara ilmiah ini terletak pada dorongannya kepada umat Islam untuk berpikir di samping membukakan bagi mereka pintu-pintu pengetahuan dan mengajak mereka memasukinya, maju di dalamnya dan menerima segala ilmu pengetahuan baru yang mantap,stabil.
Disamping hal-hal di atas di dalam Qur’an terdapat isyarat-isyarat ilmiah yang diungkapkan dalam konteks hidayah. Dan diantara sarana pemindahnya adalah angin. Penjelasan demikian terdapat dalam firmannya:
“Dan kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tubuh-tumbuhan)...” (al-Hijr [15] :22).
Oksigen sangat penting bagi pernafasan manusia, dan ia berkurang pada lapisan-lapisan udara yang tinggi.
“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya peyunjuk,niscaya ia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama)Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan adanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit.” (al-An’am [6]:125).
Dan tidak ada yang lebih kecil dari atom selain pecahan atom itu sendiri (maksudnya, ayat ini menunjukan bahwa atom bukan merupakan benda terkecil yang tidak dapat di bagi lagi).
Berkenaan dengan embriologi datanglah firman Allah:
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah ia diciptakan?Ia diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan.” (at-Tariq [86]:5-7).
“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (al-‘Alaq [96]:2)7.
Banyak juga isyarat-isyarat ilmiyah pada Al-Quran
 Cahaya matahari bersumber dari dirinya sendiri dan cahaya bulan merupakan pantulan (QS. yunus : 5)
 Kurangnya oksigen pada ketinggian dapat menyesakkan nafas (QS. Al An’am : 125)
 Perbedaan sidik jari manusia (QS. Al Qiyamah : 4)
 Masa penyusuan ideal dan masa kehamilan minimal (QS. Al Baqoroh : 233)8.

4. Perbedaan pendapat di kalangan ulama
a. Menurut golongan sharfah sampai menjelang abad III H terma i’jaz masih dipahami sebagai keunikan Al-Quran yang tidak dapat ditiru oleh siapapun. Namun berkat pengaruh al jahiz seorang tokoh mu’tazilah terma itu belakangan ini lebih dispesifikasikan pada gaya retorika Al-Quran. Pada perkembangannya seorang tokoh mu’tazilah lain yaitu abu ishaq an nazham berpendapat bahwa kemukjizatan Al-Quran ini karena adanya pemalingan, yakni Allah telah memalingkan manusia untuk menantang Al-Quran dengan cara menciptakan kelemahan padanya sehingga tidak dapat mendatangkan hal yang sama dengan Al-Quran. Seandainya Allah tidak memalingkan manusia pasti bisa menandingi Al-Quran.
Para ulama membantah paham tersebut, karena telah menuduh Allah menantang orang berbicara tetapi lidah orang itu terlebih dahulu dipotong (dilemahkan) oleh-Nya. Padahal jika di runut dari latar belakang teks-teks tentang tantangan (tahaddi) Al-Quran jelaslah bahwa kaum kafir quraisy pada saat itu merasa mampu mendatangkan kitab serupa meskipun nyatanya tidak berhasil.
b. Menurut imam fakhrudin
Aspek kemukjizatan Al-Quran terletak pada kefasihannya , keunikan redaksi, dan kesempurnaannya dari segala bentuk cacat. Sementara itu menurut az zamlakani aspek kemukjizatan Al-Quran terletak pada penyusunan yang spesifik.
c. Menurut ibnu ’athiyyah
Aspek kemukjizatan Al-Quran terletak pada runtutannya, makna-maknanya yang mendalam dan kata-katanya yang fasih. Hal tersebut tidak perlu diherankan karena Al-Quran merupakan firman Allah, Dzat yang maha mengetahui. Al-Quran sungguh diliputi oleh pengetahuan-Nya. Bila urutan-urutannya dicermati tampaklah keserasian antara satu ayat dengan ayat yang mengiringinya.
d. Menurut sebagian ulama
Menurut sebagian ulama berpendapat bahwa segi kemukjizatan Al-Quran adalah sesuatu yang terkandung dalam Al-Quran itu sendiri, yaitu susunan yang tersendiri dan berbeda dengan bentuk puisi orang arab maupun bentuk prosanya baik dalam permulaannya maupun suku kalimatnya.
e. Menurut sebagian ulama lain
Sebagian lain berpendapat bahwa segi kemukjizatan Al-Quran itu terkandung dalam kata-katanya yang jelas redaksinya yang bernilai sastra dan susunan yang indah karena nilai sastra yang terkandung dalam Al-Quran itu sangat tinggi dan tidak ada bandingannya9.




C. KESIMPULAN
I’jaz al quran atau kemukjizatan al quran adalah salah satu ilmu al quran yang menunjukkan keunikan, kebenaran, kekuatan al quran itu sendiri. Banyak mukjizat yang terkandung dalam al quran sehingga manusia tidak dapat membuat semisal dengannya. Hal ini untuk menunjukkan kebesaran Alloh swt sebagai penciptanya. Maha benar Allah dengan segala firma-Nya.

Senin, 16 Mei 2011

 
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Asyhaduanlaailaaha illallaah,
Wa asyhadu anna Muhammadarrasuulullah.
Radhiitu billaahi robba,
Wa bil Islaami diina,
Wabimmuhammadinnabiyya wa rasuula

Ikrar Anggota
TAPAK SUCI PUTERA MUHAMMADIYAH

  1. Setia menjalankan ibadah dengan ikhlas karena Allah semata
  2. Mengabdi kepada Allah, berbakti kepada bangsa dan negara, serta membela keadilan dan kebenaran.
  3. Menjauhkan diri dari segala perangai dan tingkah laku yang tercela.
  4. Mencari perdamaian dan kasih sayang serta menjauhi perselisihan dan permusuhan.
  5. Patuh dan taat kepada peraturan-peraturan serta percaya kepada kebijaksanaan pimpinan.
  6. Dengan IMAN dan AKHLAQ saya menjadi kuat, tanpa IMAN dan AKHLAQ saya menjadi lemah.
Laa hawla wa laa kuwwata illaa billaahil 'aliyyil 'adzhiim
Sejarah Perguruan Tapak Suci
Ditulis oleh Niko Lerch   
Sabtu, 17 Januari 2004 18:52

Sejarah Tapak Suci

Di Banjarnegara, Jawa Tengah, Kiyai Haji (K.H.) Syuhada pada tahun 1872 memiliki seorang putera yang diberi nama Ibrahim. Sejak kecil ia menerima ilmu pencak dari ayahnya. Ibrahim tumbuh menjadi Pendekar yang menguasai pencak ragawi dan batin / inti tetapi sekaligus Ulama yang menguasai banyak ilmu, kemudian berganti nama menjadi K.H. Busyro Syuhada.
Pada awalnya K.H.Busyro Syuhada mempunyai 3 murid, yaitu :
  • Achyat ( adik misan ), yang kemudian dikenal dengan K.H. Burhan
  • M.Yasin ( adik kandung ), yang dikenal dengan K.H. Abu Amar Syuhada
  • Soedirman, yang dikemudian hari mencapai pangkat Jenderal dan pendiri Tentara 
Nasional Indonesia, bahkan bergelar Panglima Besar Soedirman.
Pada tahun 1921 di Yogyakarta, bertemulah K.H. Busyro Syuhada dengan kakak beradik Ahmad Dimyati dan Muhammad Wahib. Dalam kesempatan itu mereka adu ilmu pencak antara M. Wahib dan M. Burhan. Kemudian A. Dirnyati dan M. Wahib dengan pengakuan yang tulus  mengangkat K.H. Busyro Syuhada sebagai guru dan mewarisi ilmu pencak dari K.H. Busyro Syuhada yang kemudian menetap di Kauman. Menelusuri jejak gurunya, Ahmad Dimyati mengembara ke barat sedang M. Wahib mengembara ketimur sampai ke Madura untuk menjalani adu kaweruh ( uji ilmu ). Pewaris ilmu banjaran, mewarisi juga sifat-sifat gurunya M. Wahib sebagaimana K.H. Busyro Syuhada, bersifat keras, tidak kenal kompromi, suka adu kaweruh. Untuk itu sangat menonjol nama M. Wahib dari pada  A. Dimyati. Sedang A. Dimyati yang banyak dikatakan ilmunya lebih tangguh dari pada adiknya M. Wahib tetapi karena pendiam dan tertutup maka tidak banyak kejadian-kejadian yang dialami. Sebagaimana M. Burhan yang mempunyai sifat dan pembawaan sama dengan A. Dimyati.
K. H. Busyro Syuhada pernah menjadi guru pencak untuk kalangan bangsawan dan keluarga Kraton Yogyakarta. Salah satu diantara muridnya adalah R.M. Harimurti, seorang pangeran kraton, yang dikemudian hari beberapa muridnya mendirikan perguruan–perguruan pencak silat yang beraliran Harimurti.

Kauman, Seranoman dan Kasegu

Pendekar Besar KH Busyro Syuhada memberi wewenang kepada pendekar binaannya, A. Dimyati dan M. Wahib untuk membuka perguruan dan menerima murid. Perguruan baru yang didirikan pada tahun 1925 itu diberi nama Perguruan "Kauman", yang beraliranBanjaran.
Perguruan Kauman mempunyai peraturan bahwa murid yang telah selesai menjalani pendidkan dan mampu mengembangkan ilmu pencak silat diberikan kuasa untuk menerima murid.
M. Syamsuddin yang menjadi murid kepercayaan Pendekar Besar M..Wahib diangkat sebagai pembantu utama; dan dizinkan menerima murid. Kemudian mendirikan perguruan ”Seranoman".  Perguruan Kauman menetapkan menerima siswa baru, setelah siswa tadi lulus menjadi murid di Seranoman. Perguruan Seranoman melahirkan pendekar muda Moh. Zahid, yang juga lulus menjalani pendidikan di perguruan Kauman. Moh. Zahid yang menjadi murid angkatan ketiga (3) bahkan berhasil pula mengembangkan pencak silat yang berintikan kecepatan; kegesitan, dan ketajaman gerak. Tetapi murid ketiga ini pada tahun 1948, wafat pada usia yang masih sangat muda. Tidak sempat mendirikan perguruan baru tetapi berhasil melahirkan murid, Moh. Barie lrsjad.
Pendekar Besar KH Busyro Syuhada berpulang ke Rahmatullah pada bulan Ramadhan 1942. Pendekar Besar KH Busyro Syuhada bahkan tidak sempat menyaksikan datangnya perwira Jepang, Makino, pada tahun 1943 yang mengadu ilmu beladirinya dengan pencak silat andalannya. Makino mengakui kekurangannya dan menyatakan menjadi murid Perguruan Kauman sekaligus menyatakan masuk Islam kemudian berganti nama menjadi Omar Makino. Pada tahun 1948 Pendekar Besar KH Burhan gugur bersama dengan 20 muridnya dalam pertempuran dengan tentara Belanda di barat kota Yogyakarta. Kehilangan besar pesilatnya menjadikan perguruan Kauman untuk beberapa sa’at berhenti kegiatannya dan tidak menampakkan akan muncul lagi Pendekar. Moh. Barie lrsjad sebagai murid angkatan keenam (6) yang dinyatakan lulus dari tempaan ujian Pendekar M. Zahid, M. Syamsuddin, M. Wahib dan A. Dimyati kemudian dalam perkembangan berikutnya mendirikan perguruan "Kasegu"
Kalau perguruan-perguruan sebelumnya diberi nama sesuai dengan tempatnya. Perguruan Kasegu diberikan nama sesuai dengan senjata yang diciptakan oleh Pendekar Moh. Barie Irsjad.

Lahirnya Tapak Suci

Moh. Barie lrsjad akhirnya mengeluarkan gagasan agar semua aliran Banjaran yang sudah berkembang dan terpecah-pecah dalam berbagai perguruan, disatukan kembali ke wadah tunggal.
Pendekar Besar M. Wahib merestui berdirinya satu Perguruan yang menyatukan seluruh perguruan di Kauman. Restu diberikan dengan pengertian Perguruan nanti adalah kelanjutan dari Perguruan Kauman yang didirikan pada tahun 1925 yang berkedudukan di Kauman.
Pendekar M. Wahib mengutus 3 orang muridnya. dan M. Syamsuddin mengirim 2 orang muridnya untuk bergabung. Maka Pendekar M. Barie Irsjad bersama sembilan anak murid menyiapkan segala sesuatunya untuk mendirikan Perguruan.
Dasar-dasar perguruan Kauman yang dirancang oleh Moh. Barie lrsjad, Moh. Rustam Djundab dan Moh. Djakfal Kusuma menentukan nama Tapak Suci. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga dikonsep oleh Moh Rustam Djundab. Do’a dan lkrar disusun oleh H. Djarnawi Hadikusuma. Lambang Perguruan diciptakan oleh Moh. Fahmie Ishom, lambang Anggota diciptakan oleh Suharto Suja', lambang Regu Inti "Kosegu" diciptakan Adjib Hamzah. Sedang bentuk dan warna pakaian dibuat o!eh Moh. Zundar Wiesman dan Anis Susanto.
Maka pada tanggal 31 Juli 1963 lahirlah Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci
Jurus TAPAK SUCI terbagi ke dalam delapan kelompok jurus yang masing-masing diberi nama dengan nama flora dan fauna. Masing-masing Jurus ini dibedakan sesuai dengan alat penyasar, karakter, dan kekhasan masing-masing. Kedelapan kelompok jurus ini diaplikasikan baik untuk permainan Tangan Kosong maupun Senjata.


Delapan Kelompok Jurus TAPAK SUCI:
1. Mawar
2. Katak
3. Naga
4. Ikan Terbang
5. Merpati
6. Lembu
7. Rajawali
8. Harimau

TAPAK SUCI menamai jurus-jurus yang diajarkan dengan nama-nama flora dan fauna (dalam hal ini mewakili mahluk Allah SWT), mengandung arti sebagai berikut:
  • Menampilkan warna baru dalam pendidikan dan latihan pencak silat.
  • Nama flora dan fauna lebih memudahkan anggota dalam mengingat gerak.
  • Kalau anggota TAPAK SUCI menggunakan jurus namun keliru dasar kejiwaannya, hal itu dikategorikan sebagai pembelaan diri yang berdasar naluri 'kebinatangan', bukan naluri 'kemanusiaan'.

Bagaimana bentuk Jurus TAPAK SUCI?
Jurus TAPAK SUCI bukan merupakan bentuk gerak jurus pencak silat yang luar biasa atau istimewa, melainkan Jurus TAPAK SUCI adalah jurus pembelaan diri yang merupakan satu kesatuan antara gerak dan jiwa yang dilandasi oleh dasar kejiwaan akhlaqul karimah dan kesucian diri dalam mengatasi masalah yang mengancam dirinya dengan tujuan kebahagiaan fiddunya wal akhirat.